Tim 8 yang dibentuk Presiden telah final menjalankan tugasnya. Tim tersebut telah menelurkan beberapa rekomendasi terkait kasus yang dihadapi Bibit-Chandra. Point terpanas dari rekomendasi tersebut adalah penghentian kasus Bibit-Chandra dan reposisi dalam top struktur Polri dan Kejaksaan. Alasan dihentikan kasus tersebut karena tidak cukup bukti untuk dilanjutkan, maka batal demi hukum. Alasan reposisi adalah perlu diadakan reformasi institusi hukum yang telah terkontaminasi oleh mafia peradilan sedemikian kronis dan sistemik. Bola panas telah di tangan Sang Presiden. Mau diapakan, terserah.
Bola panas yang diproduksi oleh Tim 8 ini menuai kontroversi. Bagaimana sebuah Tim non permanen, non struktural, akan mengintervensi sebuah sistem hukum, bukankan itu akan menciderai komitmen bangsa ini untuk membangun sebuah negara hukum. Sedangkan jika kita konsisten dengan prinsip negara hukum, proses penegakan hukum harus steril dari intervensi pihak manapun yang tidak mempunyai kompetensi. Di satu sisi, pihak yang mendukung rekomendasi tersebut mengajukan argumen bahwa sebuah prosedur dan sistem yang salah pasti akan menghasilkan produk yang salah pula. Jika prosedur yang dijalankan oleh sistem hukum yang penuh kecurangan dan rekayasa, jika diteruskan, hasilnya pasti akan salah, yaitu ketidakadilan. Oleh sebab itu, kasus harus dihentikan, dan sistem yang telah dikuasai oleh para oknum mafia itu harus direformasi.
Demokrasi makin ramai. Prokontra akan memperkaya wacana. Masyarakat akan menjadi semakin dewasa. Tetapi, kearifan dan kebijakkan seorang Presiden sedang diuji. Tentu saja begitu bola itu digelindingkan olehnya, ada yang manggut-manggut, tetapi ada juga yang cemberut. Maklum, memang selalu begitu sebuah dialektika.
Moto GP News
Basketball News
Formula 1 News
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Minggu, November 01, 2009
Corruptor Fight Back (Kasus Bibit - Chandra)
01/11/09
Enggan sebenarnya posting tentang politik. Beberapa bulan tidak lagi tercium bau politik dari blog ini. Jejak-jejak pengunjung mengindikasikan blog ini lebih berbau erotis dengan para pencari Maria Ozawa dan aroma bajak laut dari download lagu. Tetapi kenaifan proses hukum yang dihadapi oleh Bibit S Rianto dan Chandra Hamzah sungguh sanggat menggelisahkan. Jauh sebelumnya saya sudah peringatkan "Jangan coba-coba jadi pahlawan di negri para koruptor". Tetap saja para pemburu koruptor itu tak surut semangat meskipun skenario penghancuran karakter terhadap Antasari Ashar belum juga terurai benang kusutnya. Para jawara KPK itu akhirnya mengalami nasib yang sama, pembusukan karakter oleh oknum yang berkarakter busuk. Inilah saatnya teori "Corruptor fight back" terbukti. Tidak ada orang kuat di negeri para koruptor, kecuali koruptor itu sendiri. Hari ini kau pukul kepala sang koruptur sekali saja, besok engkau akan dipukul seratus kali. Jika kau tidak cukup sakti, seketika itu kau mati. Tidak peduli, kau dipukul dengan cara cerdas maupun dengan cara goblog. Yang jelas kepalamu tetap babak belur. Tetapi jangan takut. Drama ini disaksikan oleh seluruh rakyat yang menantikan happy ending dari babak terakhir perang melawan para koruptor.
Corruptor fight back. Sebuah adegan antiklimaks dimana para koruptor melakukan serangan balasan. Konspirasi dan manipulasi disusun untuk menciptakan bukti bahwa tidak ada pahlawan sakti yang mampu memerangi korupsi. Tetapi semakin goblog saja tokoh yang bernama Polri. Menuduh dengan inkonsistensi, menahan dengan penuh ambisi, tetapi semakin telanjang kedunguannya... Ampun... ga berani gue ngelanjutin posting ini... si superbody aja dihabisi, apalagi blogger teri... ngacir...
Corruptor fight back. Sebuah adegan antiklimaks dimana para koruptor melakukan serangan balasan. Konspirasi dan manipulasi disusun untuk menciptakan bukti bahwa tidak ada pahlawan sakti yang mampu memerangi korupsi. Tetapi semakin goblog saja tokoh yang bernama Polri. Menuduh dengan inkonsistensi, menahan dengan penuh ambisi, tetapi semakin telanjang kedunguannya... Ampun... ga berani gue ngelanjutin posting ini... si superbody aja dihabisi, apalagi blogger teri... ngacir...
Jumat, Juli 24, 2009
Radikalisme, Fundamentalisme, Fanatisme
24/07/09
Radikalisme berasal dari kata "radix" (Latin) yang artinya "akar".
Jika ditinjau dari asal katanya, radikalisme berarti sebuah paham yang memperjuangkan nilai-nilai yang dianut sampai ke dasar-dasarnya. Dengan bahasa yang lebih populer kita bisa katakan bahwa paham ini memperjuangkan nilai-nilai (ideologi, agama) tanpa mengenal kompromi. Istilah lain yang menyerupai itu adalah fundamentalisme. Dari asal katanya, fundamen yang artinya dasar, fundamentalisme adalah sebuah gerakan yang mendasarkan pada ajaran-ajaran tertentu (ideologi, agama) dan memakainya secara harafiah. Istilah yang serupa tapi tak sama adalah fanatisme. Fanatisme adalah sentimen atau semangat kelompok yang berlebihan, yang mengandung subjektifitas yang sangat tinggi. Dengan nuansanya masing-masing ketiga istilah ini dalam kehidupan sosial politik biasa kita kelompokkan sebagai "aliran garis keras".
Disebut aliran garis keras karena kelompok ini tidak mengenal kompromi, tidak memberikan toleransi terhadap kelompok di luar kelompok mereka. Garis-garis yang mereka anut sebagai jalan hidup tidak akan terbelokkan maupun terpatahkan dengan alasan apapun. Itulah sebabnya mengapa mereka disebut kelompok garis keras. Kelompok ini dari zaman kapanpun dan dari kelompok keyakinan (ideologi, agama) manapun hampir selalu ada. Mengapa kelompok garis keras ini muncul?
Aliran garis keras muncul sebagai sebuah perjuangan eksistensi kelompok. Ketika eksistensi suatu kelompok terancam, maka akan muncullah sebuah reaksi pertahanan diri (defense mechanism) dari kelompok tersebut. Semakin besar ancaman maka akan semakin besar pula mekanisme pertahanan. Pada tahap tertentu mekanisme pertahanan yang bersifat defensif akan menjadi agresif. Ketika muncul sebuah mekanisme pertahanan yang bersifat agresif ini, dalam kehidupan sosial-politik terjadi sebuah ancaman yang akan menyerang secara tak terduga. Inilah yang kita sebut terorisme. Suatu bahaya yang mengancam tanpa diduga kapan terjadinya.
Jika kita cermati sesungguhnya akar dari radikalisme, fundamentalisme, fanatisme, dan terorisme adalah ketidakadilan sosial. Ketika kelompok yang kuat (ekonomi, politik) mengancam eksistensi kelompok yang lebih lemah. Dengan demikian, demi keberlangsungan eksistensi, kelompok yang lemah berusaha memperkuat diri, entah dengan meningkatkan solidaritas sesama mereka, melakukan indoktrinasi nilai-nilai yang menjadi kekhasan kelompok mereka, sampai melakukan agresi. Ini pulalah yang membuat kelompok mereka tidak akan bertoleransi dengan kelompok lain. Sebab, dengan bertoleransi berarti membiarkan diri mereka terpengaruh oleh pihak lain. Dengan begitu bisa melemahkan "semangat kelompok" yang mereka bangun. Semua dilakukan untuk menunjukkan bahwa eksistensi kelompok mereka tetap harus diperhitungkan dan diperlakukan secara adil. Hal ini tentu tidak memandang apakah kelompok itu adalah kelompok mayoritas atau minoritas. Kelompok mayoritas bila merasa eksistensinya melemah, entah dari segi ekonomi maupun politik, dia berpontensi melahirkan kelompok-kelompok garis keras. Kelompok minoritas pun demikian. Kadang-kadang mereka memperjuangkan keadilan dengan cara tidak adil.
Sebuah pertanyaan moral, apakah benar memperjuangkan keadilan dengan cara yang berlawanan dengan keadilan? Inilah kontradiksi dari terorisme dari kelompok manapun. Selama keadilan sosial tidak mampu diwujudkan oleh manusia di dunia ini, maka terorisme yang muncul dari radikalisme, fundamentalisme, dan fanatisme akan tetap ada. Ini tugas siapa?
Jika ditinjau dari asal katanya, radikalisme berarti sebuah paham yang memperjuangkan nilai-nilai yang dianut sampai ke dasar-dasarnya. Dengan bahasa yang lebih populer kita bisa katakan bahwa paham ini memperjuangkan nilai-nilai (ideologi, agama) tanpa mengenal kompromi. Istilah lain yang menyerupai itu adalah fundamentalisme. Dari asal katanya, fundamen yang artinya dasar, fundamentalisme adalah sebuah gerakan yang mendasarkan pada ajaran-ajaran tertentu (ideologi, agama) dan memakainya secara harafiah. Istilah yang serupa tapi tak sama adalah fanatisme. Fanatisme adalah sentimen atau semangat kelompok yang berlebihan, yang mengandung subjektifitas yang sangat tinggi. Dengan nuansanya masing-masing ketiga istilah ini dalam kehidupan sosial politik biasa kita kelompokkan sebagai "aliran garis keras".Disebut aliran garis keras karena kelompok ini tidak mengenal kompromi, tidak memberikan toleransi terhadap kelompok di luar kelompok mereka. Garis-garis yang mereka anut sebagai jalan hidup tidak akan terbelokkan maupun terpatahkan dengan alasan apapun. Itulah sebabnya mengapa mereka disebut kelompok garis keras. Kelompok ini dari zaman kapanpun dan dari kelompok keyakinan (ideologi, agama) manapun hampir selalu ada. Mengapa kelompok garis keras ini muncul?
Aliran garis keras muncul sebagai sebuah perjuangan eksistensi kelompok. Ketika eksistensi suatu kelompok terancam, maka akan muncullah sebuah reaksi pertahanan diri (defense mechanism) dari kelompok tersebut. Semakin besar ancaman maka akan semakin besar pula mekanisme pertahanan. Pada tahap tertentu mekanisme pertahanan yang bersifat defensif akan menjadi agresif. Ketika muncul sebuah mekanisme pertahanan yang bersifat agresif ini, dalam kehidupan sosial-politik terjadi sebuah ancaman yang akan menyerang secara tak terduga. Inilah yang kita sebut terorisme. Suatu bahaya yang mengancam tanpa diduga kapan terjadinya.
Jika kita cermati sesungguhnya akar dari radikalisme, fundamentalisme, fanatisme, dan terorisme adalah ketidakadilan sosial. Ketika kelompok yang kuat (ekonomi, politik) mengancam eksistensi kelompok yang lebih lemah. Dengan demikian, demi keberlangsungan eksistensi, kelompok yang lemah berusaha memperkuat diri, entah dengan meningkatkan solidaritas sesama mereka, melakukan indoktrinasi nilai-nilai yang menjadi kekhasan kelompok mereka, sampai melakukan agresi. Ini pulalah yang membuat kelompok mereka tidak akan bertoleransi dengan kelompok lain. Sebab, dengan bertoleransi berarti membiarkan diri mereka terpengaruh oleh pihak lain. Dengan begitu bisa melemahkan "semangat kelompok" yang mereka bangun. Semua dilakukan untuk menunjukkan bahwa eksistensi kelompok mereka tetap harus diperhitungkan dan diperlakukan secara adil. Hal ini tentu tidak memandang apakah kelompok itu adalah kelompok mayoritas atau minoritas. Kelompok mayoritas bila merasa eksistensinya melemah, entah dari segi ekonomi maupun politik, dia berpontensi melahirkan kelompok-kelompok garis keras. Kelompok minoritas pun demikian. Kadang-kadang mereka memperjuangkan keadilan dengan cara tidak adil.
Sebuah pertanyaan moral, apakah benar memperjuangkan keadilan dengan cara yang berlawanan dengan keadilan? Inilah kontradiksi dari terorisme dari kelompok manapun. Selama keadilan sosial tidak mampu diwujudkan oleh manusia di dunia ini, maka terorisme yang muncul dari radikalisme, fundamentalisme, dan fanatisme akan tetap ada. Ini tugas siapa?
Rabu, Juli 22, 2009
Ketika SBY Meledakkan Bom
22/07/09
Indonesia kembali diguncang bom. Ledakkan kali ini tepat di depan mata dunia, yaitu ketika dunia ingin tahu sehebat apa sih kemampuan Indonesia di lapangan sepak bola. Tidak tanggung-tanggung, Manchaster United rencananya yang akan meladeni para tukang bola Indonesia. Tiba-tiba bom meledak di tempat tim Manchester United akan menginap, JW Mariot dan Ritz Carlton. Terang saja para bule itu langsung ngacir. Batal deh pertandingan. Tidak usah dibayangkan kerugiannya. Pasti banyak sekali. Belum juga terungkap pelaku bom tersebut, SBY, Sang Pemenang Pemilu yang juga Sang Presiden tiba-tiba meledakkan bom. Entah bom teroris atau bom contrateroris, bom ini pun gaungnya cukup dahsyat. Tentu bukan seperti bomnya Amrozi, bomnya SBY adalah bom politik. Sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa ada upaya pendudukan kantor KPU, menggagalkan hasil pemilu, dan revolusi di negeri ini. Celakanya, informasi itu konon didapat dari data intelijen. Mungkin memang benar ada kelompok tertentu merencanakan demikian. Tetapi mengapa harus menggunakan momen bom tersebut untuk menghajar sang rival?
Analisis dan hasil penyelidikan kepolisian mulai menguak motif dan pelaku bom Kuningan. Tidak ada indikasi kaitan langsung dengan kancah perpolitikan Indonesia. Sebuah jaringan teroris transnasional disebut di belakang peristiwa itu. Konon, bom itu adalah bom bunuh diri. Lalu, bagaimana dengan bom politik SBY? Tampaknya itu pun merupakan bom bunuh diri. Sebab, dengan meledakkan bom politik dalam pidatonya itu, yang ternyata akurasinya sangat jauh, dapat menciderai citra politik SBY sendiri. Kesan yang sangat kuat dari peristiwa itu SBY ternyata seorang yang cengeng dan mudah terbawa dalam sentimentil suasana. Satu lagi kesan yang muncul, SBY seorang yang gegabah. Padahal, justru sebelumnya SBY dicitrakan sebagai sosok yang sangat hati-hati. Saking hati-hatinya, ia dianggap lamban dalam merespon. SBY pelaku apa korban dari peristiwa bom politik yang diledakkannya?
Pertanyaan ini paralel dengan apakah pelaku peledakan bom kuningan itu sekaligus perakitnya. Satu hal yang pasti, mereka tidak bekerja sendirian. Mereka bekerja dalam sebuah tim. Tim SBY dan tim teroris (konon kelompok Noordin M Top) masing-masing bertanggung jawab atas dua ledakan bom yang berbeda bentuk dan motifnya tersebut. Persoalan siapa yang merakit bomnya SBY itu biarlah menjadi kajian para analis politik. Yang kita inginkan bersatulah bangsa Indonesia apapun partainya, agamanya, etnisnya, status sosialnya bahu-membahu membangun Indonesia yang tentram, adil, dan sejahtera.
Mungkin harapan dan impian seperti itu terlalu muluk-muluk. Tetapi kenapa tidak. Bukankah SBY pernah menang dengan slogan "bersama kita bisa"? Maka, benar kata Joko Susilo bahwa kita harus segera stop dreaming start action untuk membangun Indonesia tercinta ini.
Analisis dan hasil penyelidikan kepolisian mulai menguak motif dan pelaku bom Kuningan. Tidak ada indikasi kaitan langsung dengan kancah perpolitikan Indonesia. Sebuah jaringan teroris transnasional disebut di belakang peristiwa itu. Konon, bom itu adalah bom bunuh diri. Lalu, bagaimana dengan bom politik SBY? Tampaknya itu pun merupakan bom bunuh diri. Sebab, dengan meledakkan bom politik dalam pidatonya itu, yang ternyata akurasinya sangat jauh, dapat menciderai citra politik SBY sendiri. Kesan yang sangat kuat dari peristiwa itu SBY ternyata seorang yang cengeng dan mudah terbawa dalam sentimentil suasana. Satu lagi kesan yang muncul, SBY seorang yang gegabah. Padahal, justru sebelumnya SBY dicitrakan sebagai sosok yang sangat hati-hati. Saking hati-hatinya, ia dianggap lamban dalam merespon. SBY pelaku apa korban dari peristiwa bom politik yang diledakkannya?
Pertanyaan ini paralel dengan apakah pelaku peledakan bom kuningan itu sekaligus perakitnya. Satu hal yang pasti, mereka tidak bekerja sendirian. Mereka bekerja dalam sebuah tim. Tim SBY dan tim teroris (konon kelompok Noordin M Top) masing-masing bertanggung jawab atas dua ledakan bom yang berbeda bentuk dan motifnya tersebut. Persoalan siapa yang merakit bomnya SBY itu biarlah menjadi kajian para analis politik. Yang kita inginkan bersatulah bangsa Indonesia apapun partainya, agamanya, etnisnya, status sosialnya bahu-membahu membangun Indonesia yang tentram, adil, dan sejahtera.
Mungkin harapan dan impian seperti itu terlalu muluk-muluk. Tetapi kenapa tidak. Bukankah SBY pernah menang dengan slogan "bersama kita bisa"? Maka, benar kata Joko Susilo bahwa kita harus segera stop dreaming start action untuk membangun Indonesia tercinta ini.
Senin, Juli 13, 2009
Kontes SEO, Pemilunya Para Blogger
13/07/09
Tiga bulan terakhir bloggosfer ramai dengan dua tema utama 'kontes' dan 'pemilu'. Bahkan kedua tema itu sempat kawin dalam sebuah kontes SEO dengan tajuk 'Pemilu Damai Indonesia 2009'. Saya pikir-pikir kontes SEO (Search Engine Optimizing) dan Pemilu mempunyai kemiripan. Jika pemilu kita yang baru saja usai adalah ajang kontesnya para politisi, maka kontes SEO adalah pemilunya para blogger. Pemilu adalah sebuah kegiatan politik untuk memenangkan sebuah jabatan politik, begitu pula kontes SEO adalah sebuah kegiatan blogging untuk mendapatkan posisi teratas pada hasil pencarian search engine. Sebenarnya yang dilakukan oleh para politisi dan para pakar SEO mempunyai paralel. Pakar SEO bisa belajar pada politisi, begitu pula para politisi bisa belajar pada pakar SEO. Lho..., masak sih...?
Begini ceritanya. Politik itu kan sebuah seni mengatur kehidupan masyarakat. Anda boleh setuju boleh juga tidak dengan definisi ini. Pada prinsipnya, kegiatan politik adalah kegiatan menggalang dukungan, menanamkan pengaruh, dan menggerakkan massa untuk mencapai tujuan tertentu. Maka, diperlukan kecakapan-kecakapan tertentu, misalnya diplomasi, menyampaikan argumen dan manajemen konflik yang berorientasi pada tujuan tertentu, yaitu kepentingan politik. Maka, segala aktivitas politik diabdikan pada kepentingan tersebut. Berteman maupun bermusuhan dalam konteks ini semua demi kepentingan tersebut. Bahkan Machievali merumuskan, tak ada teman atau lawan abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Siapa yang dapat dimintai dukungan untuk memperkuat pengaruh atau kekuatan, maka dialah teman. Di sinilah seni diplomasi dan manajemen konflik sangat diperlukan. Saling menjatuhkan adalah biasa. Tetapi bila lawan terlalu kuat, harus bergabung dengan kekuatan lain untuk mampu menjatuhkannya. Ini yang kita sebut koalisi kekuatan. Kekuatan-kekuatan yang bersatu untuk menjatuhkan musuh bersama biasa kita sebut konspirasi. Setelah musuh bersama itu hancur, maka kekuatan-kekuatan yang semula bersatu itu kembali saling menjatuhkan sebab tujuan mereka bersatu hanya untuk meruntuhkan kekuatan yang paling kuat sebelumnya. Pola konsiparasi tersebut terus berlangsung sampai pada akhirnya tujuan yang utama dicapai, yaitu kepentingan politik. Pada akhirnya, siapa yang mencapai tujuan politik yang diperebutkan oleh berbagai kekuatan politik, dialah yang paling ahli dalam seni politik, menggalang pengaruh dan menggerakkan massa. Bagaimana dengan SEO?
SEO pun bergantung pada dukungan yang disebut backlink. Semakin banyak backlink, maka semakin kuat pulalah posisi sebuah blog/website pada serp search engine. Persoalannya, bagaimana bisa mendapatkan backlink yang berkualitas sebanyak-banyaknya? Ada pameo di kalangan blogger, banyak blog banyak rezeki (=banyak anak banyak rezeki). Dengan memelihara banyak blog, blog-blog itu dapat dipakai untuk menyuntikkan backlink pada blog utama. Tetapi, bagi yang tidak mampu menghidupi ratusan blog, dia harus blogwalking (berkunjung ke blog orang lain), memberi komentar dan meninggalkan link di sana. Dengan blogwalking, akhirnya dia pun mendapat kunjungan balik. Terjadilah pertemanan. Yang akhirnya saling memberikan link. Jika ia mempunyai banyak teman, maka ia akan mendapat banyak backlink, meskipun dia pun harus memberikan banyak linkback pula. Blog yang ber-pagerank tinggi sering menjadi tempat tautan yang paling digemari oleh blog dengan pagerank rendah. Ibaratnya partai kecil dapat dukungan dari partai besar kan lumayan banget ya..?! Tetapi link dua arah ini tampaknya tidak begitu dahsyat pengaruhnya dibandingkan dengan link satu arah. Dan, di sinilah seorang pakar SEO akan bertindak layaknya seorang politisi.
Untuk meningkatkan kekuatan blognya pada serp search engine pada saat menjalani kontes, seorang pakar SEO akan menerapkan nofollow pada blognya. Kebijakan ini untuk meresistensi link yang ditautkan pada blognya. Bahkan, kadang semua link blog lain yang telah terpasang sebelumnya dibuang. Hal ini dipakai dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan backlink searah yang mempunyai pengaruh dahsyat. Komentar pun harus dimoderasi, sehingga para pencuri link yang masuk lewat fasilitas komentar dapat ditangkal. Semua demi tercapainya tujuan, memenangkan kontes SEO. Blogger yang tampil sebagai pemenang dalam kontes SEO otomatis akan masuk dalam jajaran para master SEO, dan kontes itu juga mengandung hadiah yang menggiurkan loh..!! Seperti pemilu bukan? Ada prestise, ada pula yang prestisius...
Memang, backlink bukan segala-galanya. Para master dengan bermain script dapat sekali gebrak langsung tampil sebagai the top one. Ini biasa yang disebut jurus black hat. Tetapi jurus ini sangat dibenci oleh search engine dan ditolak oleh penyelenggara kontes. Ibaratnya para caleg atau capres yang melakukan kecurangan dalam pemilu, dia dibenci rakyat dan ditolak sama KPU.
Nah, bagi yang baru belajar blogging seperti saya ini memang harus latihan terbang terus sambil uji nyali dalam kontes-kontes SEO berhadapan dengan para master. Nggak mimpi deh bakal tampil sebagai pemenang, tetapi sekedar menambah pengalaman. So, it's time to say, "Stop Dreaming, Start Action."
Begini ceritanya. Politik itu kan sebuah seni mengatur kehidupan masyarakat. Anda boleh setuju boleh juga tidak dengan definisi ini. Pada prinsipnya, kegiatan politik adalah kegiatan menggalang dukungan, menanamkan pengaruh, dan menggerakkan massa untuk mencapai tujuan tertentu. Maka, diperlukan kecakapan-kecakapan tertentu, misalnya diplomasi, menyampaikan argumen dan manajemen konflik yang berorientasi pada tujuan tertentu, yaitu kepentingan politik. Maka, segala aktivitas politik diabdikan pada kepentingan tersebut. Berteman maupun bermusuhan dalam konteks ini semua demi kepentingan tersebut. Bahkan Machievali merumuskan, tak ada teman atau lawan abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Siapa yang dapat dimintai dukungan untuk memperkuat pengaruh atau kekuatan, maka dialah teman. Di sinilah seni diplomasi dan manajemen konflik sangat diperlukan. Saling menjatuhkan adalah biasa. Tetapi bila lawan terlalu kuat, harus bergabung dengan kekuatan lain untuk mampu menjatuhkannya. Ini yang kita sebut koalisi kekuatan. Kekuatan-kekuatan yang bersatu untuk menjatuhkan musuh bersama biasa kita sebut konspirasi. Setelah musuh bersama itu hancur, maka kekuatan-kekuatan yang semula bersatu itu kembali saling menjatuhkan sebab tujuan mereka bersatu hanya untuk meruntuhkan kekuatan yang paling kuat sebelumnya. Pola konsiparasi tersebut terus berlangsung sampai pada akhirnya tujuan yang utama dicapai, yaitu kepentingan politik. Pada akhirnya, siapa yang mencapai tujuan politik yang diperebutkan oleh berbagai kekuatan politik, dialah yang paling ahli dalam seni politik, menggalang pengaruh dan menggerakkan massa. Bagaimana dengan SEO?
SEO pun bergantung pada dukungan yang disebut backlink. Semakin banyak backlink, maka semakin kuat pulalah posisi sebuah blog/website pada serp search engine. Persoalannya, bagaimana bisa mendapatkan backlink yang berkualitas sebanyak-banyaknya? Ada pameo di kalangan blogger, banyak blog banyak rezeki (=banyak anak banyak rezeki). Dengan memelihara banyak blog, blog-blog itu dapat dipakai untuk menyuntikkan backlink pada blog utama. Tetapi, bagi yang tidak mampu menghidupi ratusan blog, dia harus blogwalking (berkunjung ke blog orang lain), memberi komentar dan meninggalkan link di sana. Dengan blogwalking, akhirnya dia pun mendapat kunjungan balik. Terjadilah pertemanan. Yang akhirnya saling memberikan link. Jika ia mempunyai banyak teman, maka ia akan mendapat banyak backlink, meskipun dia pun harus memberikan banyak linkback pula. Blog yang ber-pagerank tinggi sering menjadi tempat tautan yang paling digemari oleh blog dengan pagerank rendah. Ibaratnya partai kecil dapat dukungan dari partai besar kan lumayan banget ya..?! Tetapi link dua arah ini tampaknya tidak begitu dahsyat pengaruhnya dibandingkan dengan link satu arah. Dan, di sinilah seorang pakar SEO akan bertindak layaknya seorang politisi.
Untuk meningkatkan kekuatan blognya pada serp search engine pada saat menjalani kontes, seorang pakar SEO akan menerapkan nofollow pada blognya. Kebijakan ini untuk meresistensi link yang ditautkan pada blognya. Bahkan, kadang semua link blog lain yang telah terpasang sebelumnya dibuang. Hal ini dipakai dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan backlink searah yang mempunyai pengaruh dahsyat. Komentar pun harus dimoderasi, sehingga para pencuri link yang masuk lewat fasilitas komentar dapat ditangkal. Semua demi tercapainya tujuan, memenangkan kontes SEO. Blogger yang tampil sebagai pemenang dalam kontes SEO otomatis akan masuk dalam jajaran para master SEO, dan kontes itu juga mengandung hadiah yang menggiurkan loh..!! Seperti pemilu bukan? Ada prestise, ada pula yang prestisius...
Memang, backlink bukan segala-galanya. Para master dengan bermain script dapat sekali gebrak langsung tampil sebagai the top one. Ini biasa yang disebut jurus black hat. Tetapi jurus ini sangat dibenci oleh search engine dan ditolak oleh penyelenggara kontes. Ibaratnya para caleg atau capres yang melakukan kecurangan dalam pemilu, dia dibenci rakyat dan ditolak sama KPU.
Nah, bagi yang baru belajar blogging seperti saya ini memang harus latihan terbang terus sambil uji nyali dalam kontes-kontes SEO berhadapan dengan para master. Nggak mimpi deh bakal tampil sebagai pemenang, tetapi sekedar menambah pengalaman. So, it's time to say, "Stop Dreaming, Start Action."
Kamis, Juli 09, 2009
Suara Rakyat Suara Tuhan?
09/07/09
Pemilu telah usai. Para pelacur intelektual yang menjajakan kredibilitasnya selama musim kampanye sementara menghitung-hitung keuntungan. Baik keuntungan finansial maupun politik. Ada yang makin berbinar, ada pula yang meredup kharismanya. Itulah konsekuensi sebuah keberpihakan.
Apapun yang terjadi selama musim kampanye, tanggal 8 Juli kemarin adalah klimaks dari seluruh transaksi di pasar politik musiman yang diberi nama pemilu. Ini mengandaikan bahwa bila akurasi perhitungan cepat (Quick Count) yang diselenggarakan beberapa lembaga survey dan media massa bisa diandalkan. Artinya, pilpres kali ini cukup satu putaran saja. Dan, pemenangnya adalah SBY-Boediono dengan angka telak, 60% lebih. Angka tersebut secara kuantitas maupun kualitas memang masih memancing perdebatan. Terlepas dari persoalan teknis prosedural penyelenggaraan pilpres kali ini yang masih menyisakan masalah, sesungguhnya angka 60% lebih itu adalah sebuah indikasi kepercayaan rakyat terhadap tokoh SBY masih besar. Seperti pepatah klasik mengatakan, fox populi fox Dei est, suara rakyat adalah suara Tuhan. Betulkah Tuhan menghedaki demikian?
Hati-hati dengan pepatah tersebut. Sama hati-hatinya dengan pepatah yang mengatakan hati nurani adalah suara Tuhan. Dalam konteks pemilu, memilih dengan hati nurani yang paling jernih merupakan kondisi ideal. Jika seluruh pemilih memilih dengan kondisi ideal tersebut, maka 60% lebih perolehan SBY tersebut adalah suara Tuhan. Berarti Tuhan menghendaki SBY yang memerintah Indonesia selama lima tahun ke depan. Dalam bahasa lain, SBY mendapatkan amanat dari rakyat maupun Tuhan yang menjadi sumber legitimasi pemerintahan SBY mendatang. Tetapi, apakah kondisi ideal itu memang terjadi?
Mimpi kali ya, hari gini nanyain kondisi ideal. Bertanya kondisi ideal sama saja menayakan keberadaan negara Utopia yang dicita-citakan Thomas Morus. Dalam ranah politik praktis, pragmatisme memang terasa sangat kental. Intrik-intrik, manufer, propaganda, bahkan agitasi sudah lumrah. Semua orang sudah tahu itu. Asal nggak keterlaluan, rakyat memaklumi. Istilah masyarakat Jawa mengatakan "ngono yo ngono neng ojo ngono". Kurang lebih maksudnya adalah, berlaku sedikit agak menyimpang boleh saja asal tidak keterlaluan. Artinya, masyarakat memang permisif terhadap ketidakwajaran dalam batas toleransi tertentu. Nah, inilah yang memberikan ruang para politisi untuk berbuat agak nakal, toh asal nggak keterlaluan, masyarakat pasti memaafkan. Celakanya, kenakalan-kenakalan para politisi inilah yang sering mencemari kejernihan hati nurani rakyat. Hati nurani yang telah terbiasa dengan ketidakwajaran, akhirnya tidak lagi mengganggap ketidakwajaran sebagai sebuah ketidakwajaran. Kalau begitu, apakah suara rakyat masih suara Tuhan? Mungkin, tetapi harus membuang semua distorsi dan kontaminasinya.
Apapun yang terjadi selama musim kampanye, tanggal 8 Juli kemarin adalah klimaks dari seluruh transaksi di pasar politik musiman yang diberi nama pemilu. Ini mengandaikan bahwa bila akurasi perhitungan cepat (Quick Count) yang diselenggarakan beberapa lembaga survey dan media massa bisa diandalkan. Artinya, pilpres kali ini cukup satu putaran saja. Dan, pemenangnya adalah SBY-Boediono dengan angka telak, 60% lebih. Angka tersebut secara kuantitas maupun kualitas memang masih memancing perdebatan. Terlepas dari persoalan teknis prosedural penyelenggaraan pilpres kali ini yang masih menyisakan masalah, sesungguhnya angka 60% lebih itu adalah sebuah indikasi kepercayaan rakyat terhadap tokoh SBY masih besar. Seperti pepatah klasik mengatakan, fox populi fox Dei est, suara rakyat adalah suara Tuhan. Betulkah Tuhan menghedaki demikian?Hati-hati dengan pepatah tersebut. Sama hati-hatinya dengan pepatah yang mengatakan hati nurani adalah suara Tuhan. Dalam konteks pemilu, memilih dengan hati nurani yang paling jernih merupakan kondisi ideal. Jika seluruh pemilih memilih dengan kondisi ideal tersebut, maka 60% lebih perolehan SBY tersebut adalah suara Tuhan. Berarti Tuhan menghendaki SBY yang memerintah Indonesia selama lima tahun ke depan. Dalam bahasa lain, SBY mendapatkan amanat dari rakyat maupun Tuhan yang menjadi sumber legitimasi pemerintahan SBY mendatang. Tetapi, apakah kondisi ideal itu memang terjadi?
Mimpi kali ya, hari gini nanyain kondisi ideal. Bertanya kondisi ideal sama saja menayakan keberadaan negara Utopia yang dicita-citakan Thomas Morus. Dalam ranah politik praktis, pragmatisme memang terasa sangat kental. Intrik-intrik, manufer, propaganda, bahkan agitasi sudah lumrah. Semua orang sudah tahu itu. Asal nggak keterlaluan, rakyat memaklumi. Istilah masyarakat Jawa mengatakan "ngono yo ngono neng ojo ngono". Kurang lebih maksudnya adalah, berlaku sedikit agak menyimpang boleh saja asal tidak keterlaluan. Artinya, masyarakat memang permisif terhadap ketidakwajaran dalam batas toleransi tertentu. Nah, inilah yang memberikan ruang para politisi untuk berbuat agak nakal, toh asal nggak keterlaluan, masyarakat pasti memaafkan. Celakanya, kenakalan-kenakalan para politisi inilah yang sering mencemari kejernihan hati nurani rakyat. Hati nurani yang telah terbiasa dengan ketidakwajaran, akhirnya tidak lagi mengganggap ketidakwajaran sebagai sebuah ketidakwajaran. Kalau begitu, apakah suara rakyat masih suara Tuhan? Mungkin, tetapi harus membuang semua distorsi dan kontaminasinya.
Sabtu, Juli 04, 2009
Pilpres 2009 : Status Quo atau Quo Vado?
04/07/09
Istilah Status Quo dalam konteks wacana politik Indonesia mencapai rating tertingginya pada pengujung keruntuhan rezim Orde Baru.
Selama tiga dasawarsa lebih Orde Baru mempertahankan Status Quo. Tetapi akhirnya, rezim yang dikomandoi oleh seorang jenderal berbintang lima itu rontok oleh sebuah gerakan reformasi yang dimotori oleh para mahasiswa. Gerakan reformasi adalah antitesis dari Status Quo, ini jika kita lihat dari cara pandang dialektis.
Dialektika bisa membentuk garis lurus (linear), bisa berputar (siklis). Misalnya begini: A adalah tesis, B muncul sebagai anti-tesis, yaitu perlawanan atau kritik terhadap A. Setelah A dan B berdialog, maka menghasilkan C sebagai sebuah sintesis. C sebagai sintesis, pada akhirnya menjadi sebuah tesis baru. Sebagai sebuah tesis, C mendapatkan kritisi dari D. Maka, D adalah anti-tesis dari C. Setelah C dan D berdialog, hasilnya muncullah E sebagai sintesis.... E kemudian menjadi tesis.... dst. Begitu terus polanya. Jika keadaan ini membentuk garis lurus dan tidak pernah kembali ke A, maka ini kita sebut dialektika linear. Tetapi sebaliknya, jika pada titik tertentu kembali ke A, ini kita sebut dialektika siklis (berputar). Coba kita kembali ke konteks pilpres Indonesia 2009 dengan menggunakan pisau bedah ini.
Pertanyaannya, apakah Pilpres 2009 ini adalah Status Quo? Pertanyaan ini memang tidak jelas (clear and distinct). Status Quo yang mana? Status Quo adalah suatu keadaan yang tidak berubah. Ini bisa terkait pada sistem, pada person, dan pada output dari sebuah pemerintahan. Jika ada yang berteriak, "Pilpres 2009 adalah status qou...!!" Pertama-tama istilah itu harus dijelaskan merujuk pada pemerintahan yang mana? Orde Baru, pemerintahan Megawati, atau pemerintahan SBY? "Ya semua...!!!" Betul..!!! Semua kandidat dalam pilpres kita kali ini memang representasi dari Status Quo.
Sekarang muncullah istilah "Qou Vado?". Quo Vado artinya, "Saya Mau Kemana?" Cailah... Ada yang binggung ya..? Bagi orang yang berpandangan progresif, inginnya akan muncul suatu perubahan dari hasil pilpres kali ini. Tetapi melihat proses dialektika dari ketiga pasangan kandidat, kok nggak ada ya yang mengindikasikan suatu progresitas, suatu perubahan. Ya, betul, jika kita merujuk pada personnya. Tapi, kalau kita lihat dari program-program mereka, kan ada rencana terobosan-terobosan yang sangan inovatif. Oh, iya-ya... Berarti, dari segi sistem yang ditawarkan, ada juga yang nggak Status Quo ya...?
Sekali-kali, secara pribadi, saya ingin bangsa ini tidak tertipu oleh propaganda kampanye. Pikir secara jernih. Teliti sebelum membeli. Lihat track record masing-masing kandidat, sambil tutup telinga. "Quo Vado?"
Selama tiga dasawarsa lebih Orde Baru mempertahankan Status Quo. Tetapi akhirnya, rezim yang dikomandoi oleh seorang jenderal berbintang lima itu rontok oleh sebuah gerakan reformasi yang dimotori oleh para mahasiswa. Gerakan reformasi adalah antitesis dari Status Quo, ini jika kita lihat dari cara pandang dialektis.Dialektika bisa membentuk garis lurus (linear), bisa berputar (siklis). Misalnya begini: A adalah tesis, B muncul sebagai anti-tesis, yaitu perlawanan atau kritik terhadap A. Setelah A dan B berdialog, maka menghasilkan C sebagai sebuah sintesis. C sebagai sintesis, pada akhirnya menjadi sebuah tesis baru. Sebagai sebuah tesis, C mendapatkan kritisi dari D. Maka, D adalah anti-tesis dari C. Setelah C dan D berdialog, hasilnya muncullah E sebagai sintesis.... E kemudian menjadi tesis.... dst. Begitu terus polanya. Jika keadaan ini membentuk garis lurus dan tidak pernah kembali ke A, maka ini kita sebut dialektika linear. Tetapi sebaliknya, jika pada titik tertentu kembali ke A, ini kita sebut dialektika siklis (berputar). Coba kita kembali ke konteks pilpres Indonesia 2009 dengan menggunakan pisau bedah ini.
Pertanyaannya, apakah Pilpres 2009 ini adalah Status Quo? Pertanyaan ini memang tidak jelas (clear and distinct). Status Quo yang mana? Status Quo adalah suatu keadaan yang tidak berubah. Ini bisa terkait pada sistem, pada person, dan pada output dari sebuah pemerintahan. Jika ada yang berteriak, "Pilpres 2009 adalah status qou...!!" Pertama-tama istilah itu harus dijelaskan merujuk pada pemerintahan yang mana? Orde Baru, pemerintahan Megawati, atau pemerintahan SBY? "Ya semua...!!!" Betul..!!! Semua kandidat dalam pilpres kita kali ini memang representasi dari Status Quo.
Sekarang muncullah istilah "Qou Vado?". Quo Vado artinya, "Saya Mau Kemana?" Cailah... Ada yang binggung ya..? Bagi orang yang berpandangan progresif, inginnya akan muncul suatu perubahan dari hasil pilpres kali ini. Tetapi melihat proses dialektika dari ketiga pasangan kandidat, kok nggak ada ya yang mengindikasikan suatu progresitas, suatu perubahan. Ya, betul, jika kita merujuk pada personnya. Tapi, kalau kita lihat dari program-program mereka, kan ada rencana terobosan-terobosan yang sangan inovatif. Oh, iya-ya... Berarti, dari segi sistem yang ditawarkan, ada juga yang nggak Status Quo ya...?
Sekali-kali, secara pribadi, saya ingin bangsa ini tidak tertipu oleh propaganda kampanye. Pikir secara jernih. Teliti sebelum membeli. Lihat track record masing-masing kandidat, sambil tutup telinga. "Quo Vado?"
Selasa, Juni 30, 2009
Kampanye : Musim Melacur Telah Tiba
30/06/09
Kampanye. Propaganda. Kedua kata itu saudara sekandung. Keduanya bertugas menyebarkan wacana, membentuk opini, dan menanamkan pengaruh kepada massa. Bisa baik. Bisa buruk. Seperti sebilah pisau. Ada di tangan siapa dan untuk tujuan apa. Apapun tujuannya, pisau secara an sich, semakin tajam akan semakin efektif. Begitu pula kampanye.
Issue-issue yang ditebarkan semakin tajam, akan semakin berpengaruh. Bahkan, dalam konteks pemilu, dengan kampanye, sebenarnya kemenangan telah bisa diukur (meski relatif ya..).
Selama musim kampanye ini, media massa tidak pernah sepi dari polemik antar kubu pendukun kandidat. Terutama mereka yang dibayar untuk itu. Nah, kalau sudah berurusan dengan bayar-membayar, objektivitas dan netralitas bisa dilacurkan. Lihat saja opini-opini yang disebarkan oleh para intelektual yang dulunya kita kenal netral dan objektif, sekarang ngomongnya ngawur nggak karu-karuan. (Maaf, saya nggak berani menyebut nama tokoh-tokoh itu karna nggak punya duit untuk membiayai pengadilan jika saya disomasi). Seolah-olah musim kampanye ini adalah musim melacurkan intelektualitas. Nggak peduli, setelah tidak ada lagi yang membeli opininya, dia seperti tak berguna lagi.
Apa ada yang salah? Salah dan benar tergantung sudut pandang. Apalagi jika ini ditanyakan kepada para pelacur intelektual itu, dengan kepiawaiannya beretorika, tentu tidak ada yang salah. Mungkin memang tidak salah. Tetapi, seperti guru filsafat klasik, Sokrates, demi kebenaran objektif, dia tidak akan menerima sebesar apapun bayaran yang akan diberikan kepadanya untuk memutarbalikkan kebenaran. Inilah letak integritas seorang intelektual sejati. Kebenaran adalah kebenaran.
Issue-issue yang ditebarkan semakin tajam, akan semakin berpengaruh. Bahkan, dalam konteks pemilu, dengan kampanye, sebenarnya kemenangan telah bisa diukur (meski relatif ya..). Selama musim kampanye ini, media massa tidak pernah sepi dari polemik antar kubu pendukun kandidat. Terutama mereka yang dibayar untuk itu. Nah, kalau sudah berurusan dengan bayar-membayar, objektivitas dan netralitas bisa dilacurkan. Lihat saja opini-opini yang disebarkan oleh para intelektual yang dulunya kita kenal netral dan objektif, sekarang ngomongnya ngawur nggak karu-karuan. (Maaf, saya nggak berani menyebut nama tokoh-tokoh itu karna nggak punya duit untuk membiayai pengadilan jika saya disomasi). Seolah-olah musim kampanye ini adalah musim melacurkan intelektualitas. Nggak peduli, setelah tidak ada lagi yang membeli opininya, dia seperti tak berguna lagi.
Apa ada yang salah? Salah dan benar tergantung sudut pandang. Apalagi jika ini ditanyakan kepada para pelacur intelektual itu, dengan kepiawaiannya beretorika, tentu tidak ada yang salah. Mungkin memang tidak salah. Tetapi, seperti guru filsafat klasik, Sokrates, demi kebenaran objektif, dia tidak akan menerima sebesar apapun bayaran yang akan diberikan kepadanya untuk memutarbalikkan kebenaran. Inilah letak integritas seorang intelektual sejati. Kebenaran adalah kebenaran.
Selasa, Juni 30, 2009
Kenapa Sih Kalau Katolik?
Kenapa sih kalau Katolik? Atau pertanyaannya diganti. Ada apa dengan Katolik? Aduh.. Kedua pertanyaan ini sangat sulit.
Sesulit merunut benang kusut issue Katolik yang ditembakkan pada seorang kandidat pada pilpres di Indonesia. Herawati, istri Boediono, adalah seorang Katolik. Begitu issuenya. Padahal bukan begitu kenyataannya. Kalau kita masih ingat, issue seperti ini juga dulu pernah dialamatkan kepada Ibu Ani, istri SBY ketika menghadapi pilpres sebelumnya. Tak perlu berbasa-basi, seperti kita tahu bahwa negeri ini tampak tidak iklas kalau diperintah oleh seorang yang berbau Katolik. Kenapa..?
Pertanyaan ini bisa dijawab dengan berbagai alasan. Secara psikologis, mayoritas tidak akan menerima diperintah oleh minoritas. Seperti jaman kompeni saja. Belanda cuma sedikit dibandingkan pribumi, tapi kok memerintah pribumi. Maka minoritas kompleks yang tumbuh pada kelompok mayoritas akan memeletuskan pemberontakan, baik itu dalam bentuk wacana politik, maupun dalam bentuk yang lebih real.
Secara doktrinal religius, umat Muslim yang mayoritas di Indonesia, tidak akan menerima seorang non-muslim (bahkan ada yang lebih ekstrim menyebut "kafir") menjadi umara, yaitu pemimpin politik dan pemerintahan mereka. Sebab, bagi Islam, umara dan ulama haruslah amanah. Padalah, amanah berarti harus tumbuh dari komunitas Muslim itu sendiri. Maka, bersiap-siaplah menerima penolakan jika ada kandidat yang berbau Katolik.
Alasan-alasan itu sebenarnya tidak hanya berlaku di Indonesia atau dalam komunitas Muslim saja. Kita tidak bisa bayangkan jika seorang Perdana Menteri Inggris seorang penganut Katolik Roma. Maka penganut Anglikan pasti akan mempersoalkannya. Atau Amerika diperintah oleh seorang Muslim, maka penganut Methodis pasti akan mempersoalkan. Begitu pula jika negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, tidak akan rela diperintah oleh seorang non-muslim. Apalagi Katolik?
Lho... kok apalagi Katolik? Dalam sejarah Amerika Serikat, seorang Katolik yang pernah menjadi presiden hanya satu. Itupun akhirnya mati tertembak. Bagi sebagian besar warga Amerika, jika presiden mereka seorang Katolik, maka dia masih tunduk pada pengaruh Paus di Vatikan. Padahal, Amerika dalam pikiran mereka, adalah negara adikuasa. Kalau perlu Paus tunduk pada pengaruh Amerika. Maka, presiden Katolik bagi mereka adalah kesalahan dalam sejarah.
Benar apa tidak anggapan mereka, sesungguhnya pengaruh Katolik tidak seburuk yang mereka bayangkan. Begitu pula di Indonesia. Seburuk apakah Katolik di Indonesia? Dosa apa yang pernah diukir umat Katolik di Indonesia? Sehingga issue seorang istri kandidat wapres beragama Katolik seolah-olah layak untuk dipakai merontokkan elektabilitasnya. Mungkin karna orang Katolik boleh makan daging babi sehingga kalau istri seorang wakil presiden beragama Katolik bisa menularkan virus flu babi.
Pertanyaan ini bisa dijawab dengan berbagai alasan. Secara psikologis, mayoritas tidak akan menerima diperintah oleh minoritas. Seperti jaman kompeni saja. Belanda cuma sedikit dibandingkan pribumi, tapi kok memerintah pribumi. Maka minoritas kompleks yang tumbuh pada kelompok mayoritas akan memeletuskan pemberontakan, baik itu dalam bentuk wacana politik, maupun dalam bentuk yang lebih real.
Secara doktrinal religius, umat Muslim yang mayoritas di Indonesia, tidak akan menerima seorang non-muslim (bahkan ada yang lebih ekstrim menyebut "kafir") menjadi umara, yaitu pemimpin politik dan pemerintahan mereka. Sebab, bagi Islam, umara dan ulama haruslah amanah. Padalah, amanah berarti harus tumbuh dari komunitas Muslim itu sendiri. Maka, bersiap-siaplah menerima penolakan jika ada kandidat yang berbau Katolik.
Alasan-alasan itu sebenarnya tidak hanya berlaku di Indonesia atau dalam komunitas Muslim saja. Kita tidak bisa bayangkan jika seorang Perdana Menteri Inggris seorang penganut Katolik Roma. Maka penganut Anglikan pasti akan mempersoalkannya. Atau Amerika diperintah oleh seorang Muslim, maka penganut Methodis pasti akan mempersoalkan. Begitu pula jika negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, tidak akan rela diperintah oleh seorang non-muslim. Apalagi Katolik?
Lho... kok apalagi Katolik? Dalam sejarah Amerika Serikat, seorang Katolik yang pernah menjadi presiden hanya satu. Itupun akhirnya mati tertembak. Bagi sebagian besar warga Amerika, jika presiden mereka seorang Katolik, maka dia masih tunduk pada pengaruh Paus di Vatikan. Padahal, Amerika dalam pikiran mereka, adalah negara adikuasa. Kalau perlu Paus tunduk pada pengaruh Amerika. Maka, presiden Katolik bagi mereka adalah kesalahan dalam sejarah.
Benar apa tidak anggapan mereka, sesungguhnya pengaruh Katolik tidak seburuk yang mereka bayangkan. Begitu pula di Indonesia. Seburuk apakah Katolik di Indonesia? Dosa apa yang pernah diukir umat Katolik di Indonesia? Sehingga issue seorang istri kandidat wapres beragama Katolik seolah-olah layak untuk dipakai merontokkan elektabilitasnya. Mungkin karna orang Katolik boleh makan daging babi sehingga kalau istri seorang wakil presiden beragama Katolik bisa menularkan virus flu babi.
Minggu, Mei 24, 2009
Ada Yang Kawin Paksa : Pilpres 2009
24/05/09
Kita tahu ada tiga pasangan yang sedang berpacaran, berniat untuk melakukan kawin kontrak. Entah jadi nggak, pada akhirnya tergantung dukungan rakyat. Soalnya hanya satu pasangan yang akan sah. (memang ada kawin kontrak yang sah, ya..? ngawur banget nih penulis...) Apa pun yang bakal terjadi hari esok, hari ini tetap menarik mengamati tingkah laku mereka. Mulai dari proses pemilihan pasangan sampai deklarasi... Kadang terasa menggelikan.. Tapi memang begitulah panggung sandiwara politik... Meski terkesan aneh, baiknya kita mengganggap sesuatu yang serius... sebab kalau kita anggap dagelan alias lawak, kita nggak akan bisa berhasil menanamkan dalam diri kita bahwa yang namanya ngurus negara itu sesuatu yang serius... Giliran dapat amanat untuk ngurusin negara jadinya ya seperti para politisi kita sekarang...
Dari konsep idiologi-politiknya, ketiga pasangan tersebut hampir tidak mempunyai perbedaan. Semua adalah nasionalis. Dari kultur politik, ini nih yang menarik, ada tiga jendral bersaing di ketiga kubu. Bagi yang anti militerisme, ini nih saatnya anda untuk khawatir... Bagaimanapun, Prabowo, jendral yang pernah dijuluki "the rising star" lagi-lagi menunjukkan kepiawaiannya dalam taktik strategi 'perang'. Dengan perolehan yang minim dalam pileg, akhirnya dia harus rela pada posisi cawapres. Tetapi hal itu tidak meminimalisir agresitasnya. Dengan konsep ekonomi kerakyatan, lagi-lagi dia berhasil meningkatkan popularitasnya, bahkan mengalahkan popularitas capresnya. Secara konsep, konsep Prabowo berseberangan langsung dengan konsep yang diusung pasangan SBY-Budiono yang cenderung neo-liberal. Ini menciptakan polarisasi, sehingga massa mulai merapat ke kutubnya masing-masing. Dan ini mampu meruntuhkan sebagian popularitas SBY.
Di tengah pertempuran konsep ekonomi tersebut, pasangan JK-Wiranto memilih untuk mendamaikan kedua konsep tersebut. Tampaknya ini untuk mengakomodasi massa yang binggung. Cukup cerdas juga segmentasi pasangan ini. Di Indonesia kan banyak orang bingung... (jangan-jangan yang nulis ini juga sedang bingung.. he he he ). Semakin banyak orang bingung, semakin besar pulalah peluang mereka... Harap kalau jadi pasangan yang berkuasa kelak nggak selalu bikin bingung aja ya..??!!
Sby-Budiono tampaknya pasangan yang ikatan cintanya (baca: politik) paling kuat. Budiono berani meninggalkan posisinya sebagai gubernur Bank Indonesia yang gajinya lebih besar dari gaji wapres. Padahal, belum tentu kelak akan terpilih jadi wapres. Sebuah pengorbanan (baca: pertaruhan) yang luar biasa. Sby pun begitu. Dia memilih Budiono ketimbang nama-nama yang punya nilai jual tinggi, misalnya Hidayat Nur Wahid atau Hatarajasa. Bahkan dengan memilih Budiono, popularitas Sby jadi melorot. Gaya berpolitik yang tidak terlalu peduli dengan popularitas ini memang agak aneh. Tetapi hal ini justru memperjelas bahwa pasangan ini akan memperjuangkan agenda tertentu tanpa kompromi politik: Neo-Liberalisme.
Lain lagi dengan JK-Wiranto. Pasangan ini bisa dibilang incest, keduanya dari klan Golkar. Wiranto memang sedang membangun kerajaan politik di luar Golkar, tetapi Hanura-nya itu ya sama saja seperti Golkar platformnya. Hanura hanyalah kanalisasi dari ketidakterakomodasinya kepentingan politiknya. Maka, dalam platform idiologi tentu mereka tidak perlu berkompromi lagi karena memang sama. Meskipun begitu, sesungguhnya mereka berjodoh bukan pertama-tama karena kesamaan idiologi, tetapi kesamaan dalam kebingungan ketika membaca peluang kok berat ya bersaing dalam pilpres. Nah, inilah tempat yang tepat bagi mereka yang bingung untuk menyalurkan hak politiknya.
Mega-Prabowo. Pasangan ini tampaknya yang paling bertenaga. Sangat agresif. Tetapi pasangan ini pula yang sangat potensial mengalami keretakan. Mega yang sangat sensitif bersanding dengan Prabowo, wakilnya yang sangat ambisius. Ketika popularitas Prabowo mengalahkan Mega, maka tidak akan sungkan-sungkan si Mbak akan ngambek. Apalagi stigma sejarah awal reformasi, kedua tokoh ini terlibat dalam suatu alur cerita yang saling bermusuhan. Mereka sekarang bersama tentu bukan karena cinta, tapi karena 'terpaksa'. Mega yang merasa masih memiliki posisi tawar yang tinggi, dia tidak akan mencari, tetapi menunggu siapa yang melamar untuk jadi cawapres. Sementara Prabowo yang berambisi jadi presiden cukup realistis membaca peluang, akhirnya rela menjadi wakil. Tentu tidak mungkin dengan Sby karena perbedaan konsep ekonominya. Yang paling mungkin dengan Mbak yang selalu ngomong memperjuangkan nasib wong cilik.
Apapun alasan mereka memilih pasangan mereka masing-masing, yang jelas rakyat Indonesia semakin cerdas. Janji bukan lagi komoditas yang laik jual. Rakyat ingin lebih realistis. Nah, .... kita pengen maju ke depan atau maju ke belakang...? Jangan salah pilih... Jangan juga tidak memilih... sebab bagi yang bingung juga ada pilihannya lho... he he he...
Weh... waktunya mandi nih... lanjutin rutinitas harian... besok dilanjutin ya...
Dari konsep idiologi-politiknya, ketiga pasangan tersebut hampir tidak mempunyai perbedaan. Semua adalah nasionalis. Dari kultur politik, ini nih yang menarik, ada tiga jendral bersaing di ketiga kubu. Bagi yang anti militerisme, ini nih saatnya anda untuk khawatir... Bagaimanapun, Prabowo, jendral yang pernah dijuluki "the rising star" lagi-lagi menunjukkan kepiawaiannya dalam taktik strategi 'perang'. Dengan perolehan yang minim dalam pileg, akhirnya dia harus rela pada posisi cawapres. Tetapi hal itu tidak meminimalisir agresitasnya. Dengan konsep ekonomi kerakyatan, lagi-lagi dia berhasil meningkatkan popularitasnya, bahkan mengalahkan popularitas capresnya. Secara konsep, konsep Prabowo berseberangan langsung dengan konsep yang diusung pasangan SBY-Budiono yang cenderung neo-liberal. Ini menciptakan polarisasi, sehingga massa mulai merapat ke kutubnya masing-masing. Dan ini mampu meruntuhkan sebagian popularitas SBY.
Di tengah pertempuran konsep ekonomi tersebut, pasangan JK-Wiranto memilih untuk mendamaikan kedua konsep tersebut. Tampaknya ini untuk mengakomodasi massa yang binggung. Cukup cerdas juga segmentasi pasangan ini. Di Indonesia kan banyak orang bingung... (jangan-jangan yang nulis ini juga sedang bingung.. he he he ). Semakin banyak orang bingung, semakin besar pulalah peluang mereka... Harap kalau jadi pasangan yang berkuasa kelak nggak selalu bikin bingung aja ya..??!!
Sby-Budiono tampaknya pasangan yang ikatan cintanya (baca: politik) paling kuat. Budiono berani meninggalkan posisinya sebagai gubernur Bank Indonesia yang gajinya lebih besar dari gaji wapres. Padahal, belum tentu kelak akan terpilih jadi wapres. Sebuah pengorbanan (baca: pertaruhan) yang luar biasa. Sby pun begitu. Dia memilih Budiono ketimbang nama-nama yang punya nilai jual tinggi, misalnya Hidayat Nur Wahid atau Hatarajasa. Bahkan dengan memilih Budiono, popularitas Sby jadi melorot. Gaya berpolitik yang tidak terlalu peduli dengan popularitas ini memang agak aneh. Tetapi hal ini justru memperjelas bahwa pasangan ini akan memperjuangkan agenda tertentu tanpa kompromi politik: Neo-Liberalisme.
Lain lagi dengan JK-Wiranto. Pasangan ini bisa dibilang incest, keduanya dari klan Golkar. Wiranto memang sedang membangun kerajaan politik di luar Golkar, tetapi Hanura-nya itu ya sama saja seperti Golkar platformnya. Hanura hanyalah kanalisasi dari ketidakterakomodasinya kepentingan politiknya. Maka, dalam platform idiologi tentu mereka tidak perlu berkompromi lagi karena memang sama. Meskipun begitu, sesungguhnya mereka berjodoh bukan pertama-tama karena kesamaan idiologi, tetapi kesamaan dalam kebingungan ketika membaca peluang kok berat ya bersaing dalam pilpres. Nah, inilah tempat yang tepat bagi mereka yang bingung untuk menyalurkan hak politiknya.
Mega-Prabowo. Pasangan ini tampaknya yang paling bertenaga. Sangat agresif. Tetapi pasangan ini pula yang sangat potensial mengalami keretakan. Mega yang sangat sensitif bersanding dengan Prabowo, wakilnya yang sangat ambisius. Ketika popularitas Prabowo mengalahkan Mega, maka tidak akan sungkan-sungkan si Mbak akan ngambek. Apalagi stigma sejarah awal reformasi, kedua tokoh ini terlibat dalam suatu alur cerita yang saling bermusuhan. Mereka sekarang bersama tentu bukan karena cinta, tapi karena 'terpaksa'. Mega yang merasa masih memiliki posisi tawar yang tinggi, dia tidak akan mencari, tetapi menunggu siapa yang melamar untuk jadi cawapres. Sementara Prabowo yang berambisi jadi presiden cukup realistis membaca peluang, akhirnya rela menjadi wakil. Tentu tidak mungkin dengan Sby karena perbedaan konsep ekonominya. Yang paling mungkin dengan Mbak yang selalu ngomong memperjuangkan nasib wong cilik.
Apapun alasan mereka memilih pasangan mereka masing-masing, yang jelas rakyat Indonesia semakin cerdas. Janji bukan lagi komoditas yang laik jual. Rakyat ingin lebih realistis. Nah, .... kita pengen maju ke depan atau maju ke belakang...? Jangan salah pilih... Jangan juga tidak memilih... sebab bagi yang bingung juga ada pilihannya lho... he he he...
Weh... waktunya mandi nih... lanjutin rutinitas harian... besok dilanjutin ya...
Langganan:
Postingan (Atom)

